Kamis, 10 Oktober 2013

UNTUK APA KITA HIDUP ?

Pertanyaan apa tuh ? Ya hidup untuk di jalani, sambil menunggu datangnya kematian.  Anda benar...!!

Untuk apa kita hidup ? Ya tergantung dari sudut pandang bagaimana kita menanggapinya.

Ok, masing-masing kita punya perspectif berbeda kalo bicara tentang tujuan hidup.  Tapi menurut pemikiran ‘bloon’ gue, totalitas hidup tiap orang cuma mengarah ke dua tujuan: pertama, untuk diri sendiri dan kedua untuk orang lain.  Loh koq gitu, kan harusnya ada pilihan ke-tiga, yakni untuk diri sendiri dan orang lain juga.  Okelah kalo begitu (dan anggaplah begitu...)      

Tapi buat gue, semua yang kita lakukan dalam hidup ini, semata-mata untuk dan demi diri kita sendiri.  Kalaupun pada akhirnya ‘terkesan’ untuk orang lain juga, sebenarnya bukanlah tujuan akhir, atau sebuah kesadaran yang di sengaja, melainkan ‘dampak ikutan’ dari tujuan tersebut.  Yuk kita praktek iseng-iseng walau cuma lewat imaginasi.

Kita haus.  Artinya harus minum.  Berhubung air sekarang ngga gratis, jadi kita harus beli ke warung, toko, ato apalah.  Artinya ada orang yang dapet untung dari uang kita.  Artinya, secara tidak langsung kita membuat orang lain menghasilkan pendapatan.  Yang artinya juga, kita berkontribusi pada kepentingan orang lain, yg dalam bahasa kita: kita juga hidup untuk orang lain.  Tapi kalo kita balik ke tujuan mula-mula, kan mau ngga mau kita bisa sepakat kalo  tujuan awalnya adalah pemenuhan rasa haus diri sendiri.

Ok..ok, kita anggap rasa haus terlalu subjectif.  Kita coba ke pencarian lain.  Penemuan lampu pijar, misalnya.  Kan sejarah udah ngasih tahu kalo Thomas Alva Edison penemunya.  dan sebagian besar orang juga tahu betapa penemuan tersebut udah berhasil mengubah wajah peradaban, dan memberikan kontribusi extra positif bagi kehidupan manusia.  Tapi kalo aja kita bisa menghidupkan kembali si-Thomas Edison dan menanyakan motif mula-mula, atau tujuannya menciptakan ke-1000 penemuannya itu, gue berani ngomong dengan keyakinan kalo si-Thomas juga ‘melangkah’ dari kepentingan dirinya sendiri, atau untuk memenuhi rasa ingin taunya.

Sekarang kita coba ber-imaginasi ke sesuatu yang ‘sedikit’ sensitif.  Kisah-kisah kemanusiaannya Bunda Theresa, misalnya.  Bunda Theresa semula adalah seorang pendidik/guru anak-anak Bangali yang tergolong kaya raya.  Namun dalam perjalanannya saat ber-kereta api, ia mengalami transformasi hati, dan memutar haluan hidupnya dengan mendedikasikan hidupnya pada kaum miskin di Calcuta.  Demi apa ? Demi menjawab panggilan hatinya.  Demi pemenuhan kebutuhan spritualnya.  Sedangkan tindakannya yang akhirnya menginspirasi dunia adalah pengejahwantahan atas panggilan tersebut.
‘Dunia’ melihat dampak yang seseorang perbuat.  Tapi pelaku tahu persis untuk siapa ia melakukannya mula-mula.

Akhirnya,....
Gue pikir, kalo ada orang yang selalu menggembar-gemborkan ke seluruh dunia bahwa hidupnya semata-mata untuk orang lain, dia bukan manusia.  Karena dalam ketololan gue, selama kita masih manusia, hal pertama yang kita pikirkan adalah dari aku, oleh aku dan untuk aku.  Ironisnya, justru dalam ke-akuan tersebut kita akan mendapati ‘celah’ yang merusak ke-akuan itu sendiri, hingga akhirnya kita harus menabrakan ke-akuan tersebut ke orang lain.  Dalam kalimat sederhana, ‘kita bahagia hanya jika ada orang lain yang menerima kebahagiaan itu, dan merasa bahagia’


Mungkin kalimat itu pula yang lebih dulu dialami Mr. Sam Ratulangi dalam pengembaraan hidupnya, hingga ia berkata: ‘Sitou Tumou Tumou Tou’ artinya: manusia hidup juga untuk menghidupi orang lain.